Saturday, February 19, 2011

Contoh Naskah, Teks atau Script Nasehat Perkawinan MInang


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Tidak bisa disangkal lagi bahwa hasrat terbesar para pemuda dan pemudi ketika mencapai usia dewasa pasti telah berkeinginan kuat untuk menikah. Pemuda dan pemudi saling tertarik kepada pasangannya bagaikan magnit. Hal ini merupakan anugerah terbesar dari Allah SWT yang patut disyukuri karena pernikahan itu ibarat TALI ALLAH yang menambatkan dua hati yang mampu melahirkan ketentraman hidup yang penuh Mawaddah wa Rahmah.
Untuk mencapai suasana yang penuh kedamaian dalam sebuah rumah tangga, merupakan dambaan mutlak dalam setiap insan, dalam mendayung bahtera kehidupan rumah tangga yang damai, aman dan tentram. Namun, untuk meraih idaman yang sangat menyejukkan hati itu, bukanlah hal yang mudah dan gampang tetapi memerlukan aturan main (Rule of game) tertentu, yang harus dijalankan secara ikhlas oleh pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.
Tanpa kesungguhan dan keikhlasan dari kedua belah pihak – Mawaddah wa Rahmah yang di dambakan itu tidak akan tercapai bahkan sebaliknya, penderitaan dan kesengsaraan yang akan menindih. Memang, perkawinan atau pernikahan itu sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW sesuai dengan hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah:

“ An-nikahu sunnati-faman raqiba an sunnati fa laisa minni”

Artinya: Pernikahan itu adalah sunahku kata Rasul, barang siapa yang tidak mau mengikuti sunahku, maka dia tidak pantas menjadi ummatku.

Jadi bapak-bapak, ibu-ibu dan saudara-saudara sekalian disini sudah jelas bahwa:
Hidup berkeluarga sebagai suami isteri yang dipatrikan dengan akad nikah yang dijalin dengan kalimah Allah – Laa ilaaha illallah Muhammad dar rasulullah adalah merupakan “SUNNATULLAH” yang telah turun temurun semenjak nenek moyang manusia yang pertama Nabi Adam a.s. dan Siti Hawa, yang harus dituruti dan dilaksanakan oleh umat manusia sepanjang masa. Sebab, betapapun jua, banyaknya harta dan kekayaan yang dimiliki seseorang, dan betapapun tingginya pangkat serta kedudukan yang dia miliki namun dia akan tetap merasa kesepian di tengah-tengah dunia yang ramai, jika dia tidak mempunyai isteri sebagai keluarga terdekat yang menjadi teman hidupnya.
Hal ini adalah logis dan nyata serta dapat diterima dengan mudah karena kita mengetahui bahwa keluarga yang hidup dalam suatu rumah tangga adalah merupakan pondasi dari suatu negara dan landasan yang kuat untuk pembinaan umat. Di katakan demikian karena negara itu pada hakekatnya adalah gabungan dari jutaan keluarga rumah tangga dan apabila tiap-tiap keluarga rumah tangga itu baik, pasti akan baik pulalah negara itu dalam sagala pembinaannya dan manusia yang telah bermilyar-milyar banyaknya yang telah lahir diatas dunia ini adalah hasil produksi dari rumah tangga.
Begitu mulia dan indahnya tujuan dari hidup berkeluarga maka agama islam telah memberikan penjelasan dengan sebaik-baiknya, jalan mana yang harus ditempuh untuk mencapai ketentraman dan kebahagiaan itu, baik yang tercantum didalam ayat-ayat suci Al Qur’an dan hadist-hadist Rasulullah SAW.
Sebelum saya mengakhiri pidato saya, saya akan membacakan sebuah pantun sebagai berikut:

Kaluk paku kacang balimbiang
Tampuruang lenggang – lenggangkan
Baok manurun ka Saruaso
Tanam sirieh jo ureknyo

Anak dipangku kemenakan dibimbiang
Urang kampuang dipatenggangkan
Tenggang sarato jo adatnyo
Tenggang nagari jan binaso

Hanyuik bapinteh hilang bacari
Tarapuang bakaik tabanam basalami
Usua dipamain cabua dibuang
Siang dicaliek-caliek malam didanga-danga
Kamanakan disambah bathin mamak disambah laie lupo baingekkan
Sentieng babilai kurang batukuak panjang bakorek
Singkek bauleh jauh dikandono dakek baulangi

Berakit – rakit kehulu
Berenang – renang ketepian
Bersakit – sakit dahulu
Bersenang – senang kemudian


Demikian yang dapat saya sampaikan. Kami dari wakil kedua keluarga mempelai menghaturkan maaf yang sebesar – besarnya jika ada kekhilafan dan kami mohon doa restu dari para hadirin bagi kedua mempelai.

Wabillahi Taufiq wal Hidayah,
Wassalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh.